I can see you if you are not with me
I can say to my self if you are okay
I can feel you if you are not with me
I can reach you my self, you show me the way
“ bob”
suara itu membuyarkaan lamunanku, ia itu suara gadis ku, Dina. Wanita periang
tapi bandalnya gak ketulungan men. Orang orang bilang sih dia manis but I love
her, hubungan kami udah terjalin cukup lama kebetulan kami kuliah di
universitas dan jurusan yang sama dan gila nya kami berada di kelas yang
sama.oh god mau jadi apa nanti???
Tapi sepanjang
hubungan kami, hari ini ntah kenapa terasa berbeda, waktu seakan berjalan
cepat. Ingin kumaki mentari yang terlalu cepat menutupi wajahnya dengan
kegelapan malam, aku merindukan nya walaupun jaraknya hanya sejengkal dariku,
aku merasa akan ada sesuatu yang hilang,kupeluk tubuh mungil nya seakan aku
akan merindukan saat- saat seperti ini. Oh God aku kenapa???
Segera
ku stater motor ku untuk mengantarkannya pulang, lagian langit sudah mulai
mengeluarkan suara gemuruhnya pertanda langit akan kembali menangis malam ini.
Terasa nyaman saat kedua tangannya mendekap tubuhku dari belakang, kupacu motor
ku agar tidak kehujanan pikir ku walaupun sebenarnya aku pengen berlama- lama
dengan keadaan seperti ini, kunikmati setiap detik jalan yang kami lalui sampai
akhirnya kami sampai dikos nya. Kusuruh dia turun dan sekali lagi kuperhatikan
wajah ayunya itu. Senyumnya malam ini berbeda, lebih manis dari biasanya gak
heran sih karena ambisinya pengen selalu jadi yang termanis buat semua orang.
Kulayangkan sebuah kecupan di keningnya, dan kubisikan kata cinta di
telinganya. Tapi kali ini dia membalas kata cintaku, tidak seperti biasanya karena
biasanya dia hanya membalasnya dengan mengatakan “oh” atau “udah tau”. Iya dia
berbeda.
Setelah
dia pamit untuk masuk kembali kujalankan motorku, ingin secepatnya aku sampai
dirumah, membayangkan makanan enak yang
telah menungguku untuk dimakan dan kasur empuk yang sudah menjerit dari tadi
untuk kutiduri, kuperhatikan sekelilingku. What?? Baru kali ini lalu lintas
kota Medan yang sepi, lampu- lampu iklan yang gemerlapan seakan membiarkan aku
menikmati malam ini sendiri, dan rintik hujan mulai turun dan membuyarkan
lamunan ku seakan iri dan idak membiarkanku menikmati keindahan malam ini.
Kupacu
motorku agak tidak terlalu basah kuyup nantinya pikirku tapi di perempatan
lampu merah itu samar- samar kulihat cahaya menghampiriku….
*Gelap,
ringan, sunyi, huh nyaman bisik ku dalam hati. Tersadar aku sekarang dimana,
motorku dimana, kenapa sunyi dan gelap ini berbeda, kaki ku seakan tidak
mempunyai dasar untuk bertumpuh. Mana cahaya indah tadi, mana rintik- rintik
hujan tadi Tanya ku dalam hati. Gak tau berapa lama aku dalam keadaan seperti
ini, aku bagaikan diruang hampa, melayang. aku buta tidak bisa melihat apa-
apa. Tidak mungkin aku buta pikir ku.
Perlahan
kulihat ada setitik cahaya dari arah kejauhan, terima kasih Tuhan ternyata aku
tidak buta bisik ku dalam hati. Kudatangi sumber cahaya itu dengan sedikit
berlari namun masih saja aku tidak bisa merasakan dasar untuk berpijak, bumi
seakan benci terhadapku sehingga tidak membiarkan tubuhnya untuk kupijak, tapi
aku tidak ambil pusing berusaha aku mengapai cahaya itu yang tidak lain adalah
kerumunan manusia. Aku tidak tau apa yang dikerumuni mereka. Kucoba menanyakan
ada apa ini tapi taka da jawaban bahkan menoleh kepada ku pun tidak.
Kuterobos
kerumunan itu namun ini juga terasa berbeda, serasa sangat mudah aku melewati
kerumunan itu “ mungkin aku tambah langsing” pikir ku. Kembali aku bertanya apa
yang sebenarnya terjadi namun tetap saja jawaban yang sama yang kuterima, mata
mereka hanya tertuju pada sosok yang terbaring itu. “dia siapa” pikir ku,
kuperhatikan wajahnya, yah aku seperti mengenalinya, dia sangat mirip denganku.
Sejak kapan aku punya saudara kandung pikir ku? Apa yang terjadi padaku, siapa
dia. Otak ku sakit memikirkannya. Aku tidak ingat apa- apa, aku hanya mengingat
persimpangan dan cahaya itu.
Namun
dari belakang ada seorang gadis berteriak memanggil namaku, ia aku melihatnya
dia dina gadis ku, dia berlari sambil menangis menghampiriku. Kurengangkan
tangan dalam posisi ingin memeluknya” oh this is my girl” tapi apa yang
kulihat,m oh god dia melewatkan ku, dia menangisi pria itu sambil memanggil
namaku. “aku disini sayang” teriaku. Dia gadis ku, ada apa ini, apa yang terjadi.
Kulihat
2 pria berjubah putih berdiri disamping ku dan berkata “ sudah waktunya”.
“sudah waktunya apa, kemana??” tanyaku. “sudah waktunya meninggalkan dunia dan
pergi kerumah Bapa, dia sudah menunggumu anak ku” ucapnya
Sampai
sekarang aku masih belum tau apa yang terjadi
“aku
disini, aku disini dina”
karya: andi eko tanjung, seorang mahasiswa jurusan Pend.Ekonomi di UNIMED
Tidak ada komentar:
Posting Komentar